Tampilkan postingan dengan label Aqidah Dan Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Dan Manhaj. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 April 2013

PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA adalah TRINITAS?


Merupakan perkara yang konyol dan lucu adalah perkataan sebagian ASWAJA atau sebagian Jahmiyah bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga, (1) Tauhid Ar-Rububiyah, (2) Tauhid Al-’Uluhiyah/al-’Ubudiyah, dan (3) Tauhid al-Asmaa’ wa as-Sifaat, adalah sama dengan aqidah TRINITAS kaum Nasrani yang meyakini Allah terdiri dari 3 oknum.
Yang lebih lucu lagi mereka masih terus menganggap bahwa pernyataan mereka ini adalah hujjah yang sangat kuat untuk membantah salafiyin, padahal ini adalah hujjah yang sangat konyol dan sangat…sangat…sangat…tidak nyambung. Apakah semua yang dibagi menjadi tiga sama dengan trinitas??. Akan tetapi begitulah sebagian ASWAJA yang mencari dalil apa saja yang penting bisa membantah salafiyin (Aswaja yang sesungguhnya) !!!
Pernyataan ini (bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga sama dengan trinitas) digembar-gemborkan oleh seorang yang bernama Hasan ‘Alawi As-Saqqoof, seorang pengikut faham Jahmiyah dalam kitabnya التَّنْدِيْدُ بِمَنْ عَدَّدَ التَّوْحِيْدَ، إِبْطَالُ مُحَاوَلَةِ التَّثْلِيْثِ فِي التَّوْحِيْدِ وَالْعَقِيْدَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ (artinya : Pengungkapan kebatilan orang yang membagi tauhid, pembatalan usaha trinitas dalam tauhid dan aqidah Islamiyah)
Beliau ini dikenal tukang dusta, terlalu banyak dusta yang ia sampaikan, bahkan berdusta dihadapan khalayak ramai (di stasiun televisi), silahkan baca (http://www.saaid.net/Doat/Zugail/303.htm), demikian juga tidak amanahnya Hasan As-Saqqoof terhadap kitab-kitab para ulama sebagaimana dibongkar oleh Muhammad Sa’id Al-Katsiiri dalam kitabnya عَبَثُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ بِتُرَاثِ الأُمَّةِ وَوَقَيْعَتُهُمْ فِي عُلَمَائِنَا نَظْرَةٌ تَطْبِيْقِيَّةٌ فِي كُتُبِ حَسَن بْنِ عَلِي السَّقَّافِ (inti  buku ini adalah menunjukkan contoh praktek-praktek nyata ketidakamanahan Hasan As-Saqqof terhadap buku-buku para ulama, dan sikapnya yang menjatuhkan para ulama : silahkan di download di http://ia700302.us.archive.org/22/items/waq85152/85152.pdf), buku ini diberi pengantar oleh Syaikh yang alim yang juga berasal dari satu suku dengan Hasan As-Saqqoof, yaitu syaikh yang bernama Abdul Qoodir ‘Alawi As-Saqqoof hafizohulloh)
Adapun buku At-Tandiid tersebut maka telah dibantah secara khusus oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizohulloh dalam kitabnya الْقَوْلُ السَّدِيْدُ فِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ تَقْسِيْمَ التَّوْحِيْدِ (yang artinya : Perkataan yang Tepat dalam Membantah Orang yang Mengingkari Pembagian Tauhid,  silahkan didownload dihttp://ia701206.us.archive.org/24/items/waq34288/34288.pdf)
Untuk membantah hujjah konyol ini maka ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan :
PERTAMA : Maksud dari pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu mentauhidkan Allah dalam (1) Rububiyahnya, dalam (2) Uluhiyahnya, dan dalam (3) Asmaa dan SifaatNya.
-         Tauhid ar-Rubuubiyah artinya Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang ikut nimbrung membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.
-         Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh untuk ikut serta disembah disamping penyembahan terhadap Allah
-         Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat : Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.
Jika kita bertanya kepada kaum muslimin secara umum tentang tiga makna tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas. Lantas kenapa harus ada pengingkaran jika maknanya disetujui dan disepakati..??
KEDUA : Tauhid asalnya tidaklah diterima kecuali tauhid yang satu. Karena asalnya (1) Rob yang berhak disembah adalah (2) Rob yang maha Esa dalam penciptaan, dan juga (3) Maha sempurna sifat-sifatnya. Jika ada Rob yang tidak maha esa dalam penciptaan atau tidak sempurna sifat-sifatnya maka dia tidak berhak untuk disembah. Karenanya asalnya bahwa tauhid tidaklah menerima pembagian. Ketiga makna tauhid di atas harus terkumpulkan menjadi satu. Lantas kenapa ada pembagian??!!
Makhluklah (yaitu kaum musyrikin) yang telah melakukan pembagian, sehingga mereka hanya mengimani dan mengerjakan sebagian dari makna tauhid.
Allah berfirman :
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf : 106)
Para salaf dan para ahli tafsir telah sepakat bahwa makna ayat ini adalah kaum musyrikin arab mengakui dan mengimani bahwasanya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengaturan, akan tetapi mereka berbuat kesyirikan dengan beribadah juga kepada selain Allah. (Silahkan baca kembali penjelasan panjang lebar disertai nukilan-nukilan dari salaf dan para mufassir di artikel ini “Persangkaan Abu Salafy Al-Majhuul Bahwasanya Kaum Musyrikin Arab Tidak Mengakui Rububiyyah Allah“
Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin Arablah yang membagi tauhid kepada Allah, sehingga hanya mengimani sebagian tauhid (yaitu tauhid rububiyah) dan berbuat syirik dalam tauhid al-uluhiyah.
Allah juga berfirman
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-’Ankabuut : 65)
Ayat ini menjelaskan bahwasanya dalam kondisi gawat kaum musyrikin mengesakan (tidak membagi) tauhid mereka sehingga ikhlas berdoa kepada Allah, akan tetapi tatkala mereka diselamatkan di daratan mereka kembali lagi melakukan pembagian tauhid dan menyimpang dalam tauhid al-uluhiyah.
Dan dalil-dalil yang menunjukkan akan keimanan kaum musyrikin terhadap tauhid ar-rububiyah sangatlah banyak, sebagaimana telah saya sampaikan pada link diatas.
Perhatikan : Syari’at tidak ingin tauhid dipisah-pisahkan, bahkan ingin agar tauhid merupakan seusatu yang satu kesatuan. Hanya saja timbul penyimpangan dari kaum musyrikin yang memecah dan membagi tauhid, dimana mereka beriman kepada sebagian makna tauhid dan mengingkari sebagian yang lain. Maka datanglah syari’at untuk meluruskan mereka sehingga menjelaskan dengan cara membagi antara keimanan mereka yang benar (tauhid ar-rububiyah) dan keimanan mereka yang salah dalam tauhid (yaitu tauhid al-uluhiyah). Sehingga sering kita dapati bahwasanya Al-Qur’an berhujjah dengan keimanan mereka terhadap tauhid ar-rububiyah agar mereka meluruskan tauhid mereka yang salah dalam tauhid al-uluhiyah. Seperti firman Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqoroh : 21-22)
Dalam ayat ini Allah berhujjah dengan pengakuan kaum musyrikin dan keimanan mereka terhadap Rububiyah Allah agar mereka juga mentauhidkan Allah dalam uluhiyah/peribadatan.
Intinya : Pembagian tauhid nampak dan muncul pada makhluk lalu datanglah syari’at berusaha memperbaiki dan meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang tauhid.Jadilah timbul pembagian tauhid dalam syari’at yang memiliki 2 fungsi, (1) dalam rangka penjelasan dan (2) dalam rangka menjaga tauhid dari kesalahpahaman
KETIGA : Karenanya pembagian tauhid ini bukanlah penimbulan/pemunculan suatu makna baru yang tidak ada di zaman salaf, akan tetapi hanyalah pembaharuan dalam istilah atau metode penjelasan dan pemahaman. Karena kalau pembagian ini dikatakan bid’ah maka terlalu banyak penamaan dan pembagian yang kita hukumi sebagai bid’ah juga. Sebagai contoh misalnya  pembagian para ulama bahwasanya hukum taklifi terbagi menjadi 5 (wajib, mustahab, mubah, makruh, dan haram). Tentunya pembagian ini tidak terdapat dalam pembicaraan sahabat. Akan tetapi setelah diteliti dalil-dalil yang ada jelas bahwa kesimpulan hukum-hukum taklifi tidaklah keluar dari 5 hukum tersebut.
KEEMPAT : Pembagian tauhid adalah perkara ijtihadiah, tergantung cara seorang mujtahid dalam meng “istiqroo’ dalil-dalil, sehingga berkesimpulan bahwa tauhid terbagi menjadi berapa?.
Karenanya kita dapati :
-         Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja, yaitu :تَوْحِيْدُ الْمَعْرِفَةِ وَالْإِثْبَاتِ dan تَوْحِيْدُ الطَّلَبِ وَالْقَصْدِ.
-         Ada juga yang membagi dua dengan ibarat yang lain, yaitu : التَّوْحِيْدُ الْعِلْمِيِّ الْخَبَرِيِّ  dan التَّوْحِيْدِ الطَّلَبِيِّ الإِرَادِيِّ
-         Ada juga yang mengungkapkan dengan ibarat yang lain, yaitu : تَوْحِيْدُ الإِعْتِقَادِ  dan تَوْحِيْدُ الْعَمَلِ
-         Kita dapati juga ada sebagian orang yang membagi tauhid menjadi 4, seperti Ibnu Mandah yang membagi tauhid menjadi : (1) Tauhid Al-Uluhiyah, (2) Tauhid Ar-Tububiyah, (3) Tauhid al-Asmaa’, dan (4) Tauhid As-Sifaat.
-         Demikian juga ada yang membagi tauhid menjadi empat dengan menambahkan  tauhid yang ke (4) Tauhid Al-Haakimiyah.
Yang menjadi permasalahan bukanlah pembagian, akan tetapi content/isi dan kandungan dari pembagian tersebut, apakah benar menurut syari’at atau tidak??!! Inilah yang menjadi permasalahan, bukan masalah pembagian tauhid menjadi dua atau tiga atau empat, atau lebih dari itu.
KELIMA : Ternyata kita dapati para ulama terdahulu –jauh sebelum Ibnu Taimiyyah- telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah. Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh telah menukil perkataan para ulama salaf jauh sebelum Ibnu Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut adalah :
(1) Al-Imam Abu Abdillah ‘Ubaidullahi bin Muhammad bin Batthoh al-’Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya Al-Ibaanah.
(2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya “At-Tauhid”.
(3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid)
KEENAM : Ternyata kita juga dapati ahlul bid’ah juga telah membagi tauhid
Pertama : Kaum Asyaa’roh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara,  ungkapan mereka adalah:
إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له
“Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.
Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa’iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :

“Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :
… “Keesaan” dalam istilah kaum (Asyaa’iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :
“(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….
(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya…
(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…”
(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni.  1/336-338)
Ulama besar Asya’iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :

“Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya…”
(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri ‘alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114)
Kedua : Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan dengan kaum muslimin ada 3 tingakatan, karena beliau membagi tauhid menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya orang-orang munafik.
Adapun tingkatan-tingakatan yang berikutnya :
(1) Tauhidul ‘awaam تَوْحِيْدُ الْعَوَّام (Tauhidnya orang-orang awam)
(2) Tauhidul Khoosoh تَوْحِيْدُ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang khusus, مَقَامُ الْمُقَرّبِيْنَ) dan
(3) Tauhid Khoosotil Khooshoh تَوْحِيْدُ خَاصَّةِ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang super khusus مُشَاهَدَةُ الصِّدِّيْقِيْنَ)
Beliau rahimahullah berkata :
للتوحيد أربع مراتب …
فالرتبة الأولى من التوحيد هي أن يقول الإنسان بلسانه لا إله إلا الله وقلبه غافل عنه أو منكر له كتوحيد المنافقين
“Tauhid memiliki 4 tingkatan…tingkatan pertama dari tauhid adalah seseorang mengucapkan dengan lisannya laa ilaah illallah akan tetapi hatinya lalai darinya atau mengingkarinya, sebagaimana tauhidnya orang-orang munafiq”
Lalu Al-Gozali menyebutkan 3 tingkatan tauhidnya kaum muslimin, ia berkata :
والثانية أن يصدق بمعنى اللفظ قلبه كما صدق به عموم المسلمين وهو اعتقاد العوام
(1) Yang kedua : Yaitu ia membenarkan makna lafal laa ilaaha illallahu dalam hatinya sebagaimana pembenaran orang-orang awam kaum muslimin, dan ini adalah aqidahnya orang-orang awam
والثالثة أن يشاهد ذلك بطريق الكشف بواسطة نور الحق وهو مقام المقربين وذلك بأن يرى أشياء كثيرة ولكن يراها على كثرتها صادرة عن الواحد القهار
(2) Yang Ketiga : Yaitu dengan metode Kasyf (pengungkapan) dengan perantara cahaya Allah, dan ini adalah orang-orang muqorrobin (yang didekatkan), yaitu jika ia melihat sesuatu yang banyak akan tetapi ia melihatnya –meskipun banyak- timbul dari dzat Yang Maha Satu Yang Maha Kuasa
والرابعة أن لا يرى في الوجود إلا واحدا وهي مشاهدة الصديقين وتسميه الصوفية الفناء في التوحيد لأنه من حيث لا يرى إلا واحدا فلا يرى نفسه أيضا وإذا لم ير نفسه لكونه مستغرقا بالتوحيد كان فانيا عن نفسه في توحيده بمعنى أنه فنى عن رؤية نفسه والخلق
(3) Yang Keempat : yaitu ia tidak melihat di alam wujud ini (alam nyata) ini kecuali hanya satu, dan ini adalah pengamatan orang-orang as-siddiqin. Dan kaum sufiah menamakannya al-fanaa dalam tauhid, karena ia tidaklah melihat kecuali satu, maka iapun bahkan tidak melihat dirinya sendiri. Dan jika ia tidak melihat dirinya dikarenakan tenggelam dalam tauhid maka ia telah sirna dari dirinya dalam mentauhidkan Allah, yaitu maknanya ia telah sirna tidak melihat dirinya dan tidak melihat makhluk” (Ihyaa ‘Ulumiddiin 4/245)
KETUJUH :Ternyata sebagian ulama Ahlul Kalaam juga mengenal istilah tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah,
Abu Mansuur Al-Maturidi (pendiri madzhab Al-Maturidiyah, wafat 333 H) dalam kitabnya At-Tauhid beliau berkata :

(Kitaab At-Tauhid, Abu Manshuur Al-Maturidi, tahqiq : DR Muhammad Aruusi, Terbitan Daar Shoodir, Beirut,  hal 86)
KEDELAPAN : Kenapa harus pengingkaran besar-besaran terhadap pembagian tauhid menjadi tiga?. Rahasianya karena pembagian ini menjelaskan akan bedanya antara tauhid Ar-Rububiyah dengan tauhid Al-Uluhiyah. Dan barangsiapa yang mengakui tauhid Ar-rububiyah akan tetapi beribadah kepada selain Allah maka ia adalah seorang musyrik.Inilah pembagian yang mereka ingkari, mereka hanya ingin pembicaraan tauhid hanya pada dua model tauhid saja, yaitu tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat.
Karena dengan dibedakannya antara tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah semakin memperjelas bahwa aqidah mereka tentang bolehnya berdoa kepada mayat-mayat penghuni kubur dan beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal adalah kesyirikan yang nyata !!!
Mereka tidak mempermasalahkan jika seandainya tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat, karena dalam buku-buku aqidah mereka ternyata memfokuskan pembicaraan pada dua model tauhid ini. Jika kita setuju pembagian tauhid hanya dua saja, maka bisa saja dikatakan ini adalah dualisme ketuhanan, sebagaimana penyembah dua dewa atau dua tuhan, dan ini juga kesyirikan. Sebagaimana trinitas adalah kesyirikan demikian juga dualisme ketuhanan  juga terlarang
KESEMBILAN : Pembicaraan kaum Asya’iroh hanya terfokus dalam masalah tauhid Ar-Rububiyah, bahwasanya Allahlah satu-satunya pencipta.
Hal ini sangat nampak dari sikap mereka berikut ini
-         Sebagian ulama mereka menafsirkan laa ilaah illallah pada makna rububiyah لاَ قَادِرَ عَلَى الاِخْتِرَاعِ إِلاَّ اللهُ (Tidak ada yang mampu untuk menciptakan kecuali Allah).
Padahal yang benar dalam hal ism ahsan الله adalah bukanlah ism jamid (yaitu kata benda yang tidak berasal dari kata masdar yang bermakna), akan tetapi pendapat yang benar bawhasanya lafal الله adalah ism musytaq berasal dari kata الإله yang artinya المألوه (sebagaimana كتاب  yang bermakna مكتوب), dan المألوه maknanya adalah المعبود “yang di sembah”. Sehingga makna yang benar dari laa ilaah illallah adalah “Tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah”
-         Kita dapati kaum asyairoh dalam buku-buku aqidah mereka menyatakan bahwa أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ هُوَ النَّظْرُ (Yang pertama wajib bagi seorang mukallaf adalah pengamatan untuk meyakini adanya pencipta). Sehingga konsentrasi mereka adalah tentang penetapan akan adanya Tuhan Pencipta Yang Maha Esa dalam Penciptaan
Akibat dari salah penafsiran tentang laa ilaaha illahllahu ini akhirnya seseorang yang beristighotsah dan berdoa kepada selain Allah tidaklah terjerumus dalam kemusyrikan selama meyakini bahwa pencipta satu-satunya adalah Allah.
Karenanya kita dapati sebagian orang alim mereka (sebagian kiyai) terjerumus dalam kesyirikan atau membolehkan kesyirikan. Menurut mereka hal-hal berikut bukanlah kesyirikan :
-         Berdoa kepada mayat, meminta pertolongan dan beristighotsah kepada mayat bukanlah kesyirikan, selama meyakini bahwa mayat-mayat tersebut hanyalah sebab dan Allahlah satu-satunya yang menolong
-         Jimat-jimat bukanlah kesyirikan selama meyakini itu hanyalah sebab, dan yang menentukan hanyalah Allah. Karenanya kita dapati sebagian kiyai menjual jimat-jimat
-         Bahkan kita dapati sebagian kiyai mengajarkan ilmu-ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu sihir. Karena selama meyakini itu hanyalah sebab dan Allah yang merupakan sumber kekuatan maka hal ini bukanlah kesyirikan.
-         Sebagian mereka juga membolehkan memberikan sesajen atau tumbal kepada lumpur lapindo atau kepada gunung yang akan meletus, karena menurut mereka hal itu bukanlah bentuk kesyirikan kepada Allah.
Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-04-1434 H / 15 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

Kamis, 14 Februari 2013

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [9-Tamat]



القاعدة الرابعة

أن مشركي زماننا أغلظ شركا من الأولين لأن الأولين يشركون في الرخاء ويخلصون في الشدة، ومشركو زماننا شركهم دائما في الرخاء والشدة، والدليل قوله تعالى}: فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ) { العنكبوت آية 65. (

Kaidah yang keempat:
Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (Al Ankabut: 65)[1]

[1] SYARAH:
Kaidah keempat dan terakhir: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu yang Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- diuitus kepada mereka.
Adapun sebabnya telah jelas, Allah subhanah wa ta’ala mengabarkan bahwa kaum musyrikin terdahulu ikhlas kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- ketika mengalami kesusahan dan tidak berdoa kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala-, karena mereka tahu tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah -subhanahu wa ta’ala-, sebagaimana dinyatakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala-:

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya dilautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al Isra’: 67)
Dalam ayat yang lain:

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya”; yaitu mengikhlaskan doa pada-Nya.”(Al Ankabut: 76)

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (Luqman: 32)
Dan dalam ayat yang lain:

فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
Orang-orang musyrikin terdahulu berbuat syirik (ketika) mereka dalam keadaan senang. Mereka berdoa kepada berhala, batu-batu dan pohon-pohon. Adapun ketika terjatuh dalam kesusahan dan hampir mengalami kehancuran, mereka tidak berdoa kepada berhala, tidak pada pohon, tidak pula pada batu dan mahluk apapun –mereka- hanya berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- saja. Maka, jika tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah -subhanahu wa ta’ala-, bagaimana berdoa kepada selain-Nya dalam keadaan senang ???
Sementara kaum musyrikin pada zaman sekarang yakni orang-orang mutaakhirin yang melakukan kesyirikan dari umat Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- ini, sesungguhnya kesyirikan mereka terus –menerus baik dalam keadaan senang maupun susah. (Ketika senang) mereka tidak mengikhlaskannya untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-tidak pula dalam keadaan susah. Bahkan tatkala bertambah kesusahan mereka, bertambah pula kesyirikan dan panggilan mereka kepada Hasan, Husain, Abdul Qadir, Rifa’i serta selain itu, dan ini adalah perkara yang telah diketahui. Disebutkan pula oleh mereka terjadinya keajaiban dilautan, bahwa ketika mengalami perkara yang susah mereka memanggil nama-nama para wali dan orang-orang shalih serta beristighotsah kepada mereka, karena para da’i kebathilan dan kesesatan berkata kepada mereka: “Kami menyelamatkan kalian dari lautan, maka jika kalian tertimpa sesuatu panggillah nama-nama kami, kami akan menyelamatkan kalian.” Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari syaikh-syaikh Tariqat Sufiyyah. Jika kalian mau, bacalah “Thabaqat Sya’rani”, maka didalamnya akan terdapat (cerita-cerita) yang membuat gemetar kulit-kulit tentang apa yang dinamakan karamahnya para wali, bahwa mereka menyelamatkan dari lautan. Tangan mereka menjulur kelautan dan membawa kapal semuanya lalu mengeluarkannya ke darat sementara tidak basah lengan-lengannya, dan selain itu dari kebathilan dan khurafat mereka. Maka mereka terus-menerus melakukan kesyirikan baik dalam keadaan senang maupun susah, bahkan kesyirikan mereka lebih besar dibanding kaum musyrikin terdahulu.
Dan juga sebagaimana dikatakan oleh Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-) dalam kitab “Kasyfu Syubhat”; “Sisi yang lain, bahwasanya kaum musyrikin dahulu menyembah orang-orang shalih dari kalangan malaikat, para nabi dan para wali –sedangkan (kaum musyrikin sekarang)- mereka menyembah manusia yang paling jahat, dalam keadaan mereka mengetahui hal itu. (Mereka menyembah) orang yang mereka namakan Al Aqthab dan Al Aghwaats, padahal mereka itu tidak shalat, tidak berpuasa, serta tidak menjaga diri dari zina, liwath (homo sex) dan perbuatan keji (lainnya). Karena –menurut persangkaan mereka- (Al Aqthab dan Al Aghwaats) tidaklah memiliki taklif (beban syariat), sehingga tidak ada (baca: tidak berlaku) halal dan haram bagi mereka, karena halal dan haram hanyalah untuk orang awam. Mereka mengetahui bahwa peminpin mereka tidak shalat, tidak berpuasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji, namun bersamaan dengan itu mereka menyembahnya. Bahkan mereka menyembah manusia yang paling keji: seperti Al Hallaj, Ibnu Arabi, Rifa’i, Badawi dan selain mereka.
Syaikh -rahimahullah- membawakan dalil bahwa musyrikin mutaakhirin (zaman ini) lebih besar dan lebih keras kesyirikannya dari pada (musyrikin) terdahulu, karena (musyrikin) dahulu mereka ikhlas (kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-) dalam keadaan susah dan berbuat syirik dalam keadaan senang, beliau berdalil dengan firman Allah -subhanahu wa ta’ala-:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Al Ankabut: 65)
Mudah-mudahan shalawat dan salam Allah -subhanahu wa ta’ala- atas Nabi kita Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-, keluarga serta seluruh sahabatnya.

و الحمد لله رب العالمين

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [8]



ودليل الشمس والقمر قوله تعالى} وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ  {فصلت آية 37.

ودليل الملائكة قوله تعالى: {  وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً } (آل عمران آية 80. )

ودليل الأنبياء قوله تعالى } :  وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ{   ) المائدة آية 116(.

ودليل الصالحين قوله تعالى } : أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ) { الإسراء آية 57. (

ودليل الأشجار والأحجار قوله تعالى: {  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى } (النجم الآيتان: 19، 20 ،)

وحديث أبي واقد الليثي  قال: { خرجنا مع النبي  إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط فمررنا بسدرة فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط } (الحديث)

Adapun dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) matahari dan bulan adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan.” (Fushilat: 37)[1]
Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) malaikat adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)[2]
Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) para Nabi adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

Dan ingatlah ketika Alloh berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Alloh?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (Al Maidah: 116)[3]
Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) orang-orang shalih adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al Isra’: 57)[4]
Dan dalil (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) batu-batu dan pohon-pohon adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى  وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Alloh)? (An Najm: 19-20)[5]
Dan haditsnya Abi Waqid Al Laitsi radhiyAllohu’anhu dia berkata:
“Kami keluar bersama Nabi -shallAllohu’alaihi wa sallam- ke Hunain dan saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam-pent). Orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka beri’tikaf di sana serta menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang dinamakan Dzatu Anwaath, lalu kami melewati sebuah pohon, kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwaath …al hadits.[6]


[1] SYARAH:
(Ini) menunjukkan bahwa (di antara mereka) ada yang sujud kepada matahari dan bulan. Oleh karena itu Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- melarang shalat ketika matahari terbit dan terbenamnya dalam rangka menutup jalan (kesyirikan, ed) ke arah tersebut. Karena ada orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan terbenamnya, maka kita dilarang shalat pada dua waktu itu. Meskipun shalat tersebut untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-, namun karena shalat pada waktu itu menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, (maka kita) dilarang darinya dalam rangka menutup jalan yang dapat menghantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- datang dengan larangan terhadap kesyirikan serta menutup jalan yang menghantarkan kesana.
[2] SYARAH:
Menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi, dan sesungguhnya hal itu adalah termasuk syirik.
Para penyembah kubur pada hari ini menyatakan: Bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi serta orang-orang yang shalih tidaklah kafir.
[3] SYARAH:
Ini merupakan dalil bahwa ibadah kepada para nabi adalah syirik sebagaimana ibadah kepada berhala.
Di dalamnya terdapat bantahan atas orang yang membedakan hal itu, dari kalangan penyembah kuburan.
Juga bantahan bagi mereka yang menyatakan: Bahwa syirik itu adalah menyembah berhala (saja). Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka mengingkari persamaan diantara mereka, dan menyangka bahwa syirik itu terbatas pada penyembahan kepada berhala saja. Maka ini termasuk kesalahan yang nyata dari dua sisi:
  • Sisi pertama: Bahwa Allah -‘azza wa jalla- mengingkari semuanya dalam Al Qur’an, dan memerintahkan untuk memerangi mereka seluruhnya.
  • Sisi kedua: Bahwa Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- tidak membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah malaikat atau orang shalih.
[4] SYARAH:
Merupakan dalil bahwa ada orang yang beribadah kepada orang shalih dari kalangan manusia. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”
Dikatakan: ayat ini turun kepada orang yang menyembah Al Masih -‘alaihissalam- dan ibunya, serta Uzair. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- mengabarkan bahwa Al Masih-‘alaihissalam- dan ibunya yaitu Maryam, serta Uzair –mereka semua- adalah hamba-hamba Allah -‘azza wa jalla-. Mereka mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-dan mengharap rahmat-Nya serta takut terhadap adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang butuh kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan memerlukan-Nya, berdo’a kepada-Nya serta mencari wasilah kepada-Nya dengan ketaatan.
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   “mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”, yaitu kedekatan terhadap Allah -‘azza wa jalla- dengan taat dan beribadah kepada-Nya. Kemudian (Allah-‘azza wa jalla-) menunjukkan bahwa –mereka itu- tidaklah pantas untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang sangat butuh dan kekurangan, mereka berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- mengharapkan rahmat-Nya, serta takut akan adzab-Nya. Barangsiapa demikian keadaannya, maka tidaklah pantas untuk diibadahi bersama Allah-‘azza wa jalla-.
Pendapat yang kedua: ayat ini turun terhadap orang-orang musyrik yang menyembah sekelompok jin. Lalu (sekelompok) jin tersebut masuk Islam sementara orang-orang yang menyembahnya tidak mengetahui keislaman mereka. Mereka (sekelompok jin tadi, ed) mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan ketaatan dan ketundukan, berharap akan rahmat-Nya serta takut akan adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang membutuhkan dan fuqara’, sehingga tidak pantas untuk diibadahi.
Dan apapun yang dimaksukan dari ayat yang mulia ini, sesungguhnya ayat itu menunjukkan bahwa tidak boleh beribadah kepada orang-orang shalih, sama saja apakah mereka para Nabi dan shidiqin, atau para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka, karena semuanya adalah hamba Allah yang butuh kepada-Nya, maka bagaimana mereka itu diibadahi bersama Allah?
Wasilah artinya taat dan dekat. Menurut bahasa, wasilah adalah sesuatu yang menyampaikan kepada yang dimaksud (dituju). Maka sesuatu yang menyampaikan (kita) kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, adalah wasilah kepada Allah, dan ini adalah wasilah yang disyariatkan, sebagaimana dalam firman Allah -subhanahu wa ta’ala-:

وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah: 35)
Adapun muharrifun (orang-orang yang menyelewengkan makna) menyatakan: Wasilah adalah engkau menjadikan (sesuatu sebagai) perantara antara kamu dan Allah dari kalangan wali-wali, orang shalih dan orang-orang yang sudah meninggal. Engkau menjadikan mereka sebagai perantara antara kamu dengan Allah -subhanahu wa ta’ala- untuk mendekatkan dirimu kepada-Nya:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak meyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Maka pengertian wasilah menurut muharrifun: Engkau menjadikan sesuatu sebagai perantara antara kamu dengan Allah (untuk) mengenalkanmu kepada Allah menyampaikan keperluanmu kepada-Nya, seakan-akan Allah itu tidak tahu, atau seakan-akan Allah itu bakhil, tidak akan memberi kecuali setelah didesak oleh seorang perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Mereka menyamakan Allah dengan manusia. Kemudian mereka berkata, Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (Al Isra’: 57)
(Ini) menunjukkan bahwa, menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah perkara yang disyariatkan, karena Allah -subhanahu wa ta’ala- memuji pelakunya. Dalam ayat yang lain Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35)
Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk mengambil wasilah kepada-Nya, dan pengertian wasilah adalah perantara.” Demikianlah, mereka menyelewengkan kalimat dari tempatnya.
Sedangkan wasilah yang disyariatkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yaitu dengan ketaatan yang mnedekatkan kepada Allah, yakni bertawassul (mengambil Wasilah) kepadaNya dengan nama-nama-Nya dan Sfat-sifat-Nya. Inilah wasilah yang disyariatkan. Adapun tawassul dengan mahluk kepada Allah, maka hal ini adalah wasilah yang dilarang dan syirik, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dahulu.

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dari pada Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Dari sini, maka kesyirikan orang-orang terdahulu dan yang terakhir –sama saja- meskipun mereka menamakannya wasilah, tetap saja dia syirik yang sebenarnya, dan itu bukan wasilah yang disyariatkan oleh Allah, karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai wasilah kepada-Nya –selamanya-. Dan bahwa syirik itu justru akan menjauhkan (diri kita) dari Allah.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)
Maka bagaimana syirik itu dijadikan sebagai wasilah kepada Allah???, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Syahid (Penguat) dari ayat ini adalah, ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada orang musyrik yang beribadah kepada orang shalih, karena Allah menerangkan hal itu, dan menerangkan bahwa yang mereka sembah adalah hamba yang faqir.
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   yaitu mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan ketaatan.
أَيُّهُمْ أَقْرَبُ   yaitu berlomba-lomba dengan ibadah kepada Allah karena butuhnya mereka kepada Allah dan keperluan mereka.
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ  “Dan menharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” Maka barangsiapa keadaannya demikian, tidak pantas untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah -‘azza wa jalla-.
[5] SYARAH:
Ayat ini merupakan dalil bahwa ada orang-orang musyrik yang beribadah kepada batu-batu dan pohon-pohon.
Firman Allah: أَفَرَأَيْتُمُ “Maka apakah patut” ini adalah pertanyaan pengingkaran, yaitu: kabarkan kepada-Ku; merupakan pertanyaan pengingkaran dan celaan.
اللَّاتَ dengan mentahfif ta’: adalah nama berhala di daerah Thaif, yaitu sebuah batu besar yang diukir, di atasnya dibangun rumah dan padanya ada sitar menyerupai Ka’bah. Di sekelilingnya terdapat lapangan, dan di sisinya ada penjaga (juru kunci). Mereka beribadah kepadanya selain Allah. Berhala ini milik kaum Tsaqif dan qabilah-qabilah yang loyal kepada mereka, dan bangga dengannya.
Dan dibaca  dengan mentasydid ta’, adalah ismul fa’il dari [. . .] dia adalah seorang laki-laki shalih yag dulunya mengadoni tepung dan memberi makan orang-orang yang haji. Tatkala dia meninggal, mereka membangun rumah diatas kuburnya, kemudian menutupnya dengan sitar (kelambu). Lalu mereka beribadah kepadanya, dialah Laata.
وَالْعُزَّى Al Uzza adalah pohon dari As Salam di lembah Nahlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya terdapat bangunan dan kelambu, dan di sisinya ada juru kunci. Di situ ada setan yang berbicara dengan manusia, sehingga orang-orang yang bodoh menyangka bahwa yang mengajak bicara mereka adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun di sana. Padahal yang berbicara dengan mereka adalah setan-setan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah -‘azza wa jalla-. Berhala ini milik kaum Quraisy dan penduduk Makkah serta orang-orang di sekitarnya.
وَمَنَاةَ Mannah adalah sebuah batu besar yang terletak di dekat gunung Qudid antara Makkah dan Madinah. Berhala ini milik suku Khuza’ah, Aus dan Khazraj. Mereka berihram di sisinya ketika haji, dan mengibadahinya.
Tiga berhala ini merupakan berhala terbesar bangsa Arab.
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)
Apakah berhala tersebut mencukupi kalian? Apakah memberi manfaat kepada kalian? Apakah menolong kalian? Apakah berhala itu mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan? Apa yang kalian peroleh darinya? Ini termasuk bab pengingkaran dan peringatan bagi akal untuk kembali kepada petunjuk-Nya. Dia hanyalah batu besar dan pohon yang tidak dapat memberikan manfaat dan bahaya.
Maka tatkala Allah -subhanahu wa ta’ala- mendatangkan Islam dan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- berhasil menguasai Makkah yang dimuliakan, Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- mengutus Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu dan Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu’anhu menuju Al Laata di Thaif, kemudian mereka menghancurkannya atas perintah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- juga mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu ke Al Uzza, lalu dia menghancurkannya, menebang pohon-pohon serta membunuh jin perempuan yang ada disitu yang berbicara dengan manusia dan menyesatkan mereka. Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu menghilangkannya hingga tak tersisa –Alhamdulillah-. Rasulullah-shallallahu’alaihi wa sallam- mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ke Manat, lalu dia menghancurkan dan menghilangkannya. Berhala itu tidak dapat menyelamatkan dirinya, maka bagaimana dia dapat menyelamatkan keluarga dan penyembahnya ???

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)
Kemana dia pergi? Apakah dia memberi manfaat kepada kalian? Apakah dirinya bisa menghalangi tentara Allah -‘azza wa jalla- dan pasukan muwahhidin (ahli tauhid)?
Maka ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, bahkan ketiga berhala tersebut adalah berhala terbesar mereka. Bersamaan dengan ini Allah -subhanahu wa ta’ala- menghilangkan wujudnya, sementara dia tidak dapat menghindar darinya dan tidak pula memberi manfaat kepada keluarga (pengikutnya). Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- menyerang dan memerangi mereka, namun berhala-berhala itu tidak dapat menghalanginya.
Maka Syaikh -rahimahullah- berdalil dengan ayat ini bahwa di sana ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon. Subhanallah! Manusia yang berakal menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang tidak bernyawa, tidak memiliki akal, gerakan serta kehidupan, lalu dimana akalnya manusia? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan–‘uluwwan kabira-.
[6] SYARAH:
Dari Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dan yang masyhur beliau termasuk sahabat yang masuk Islam pada waktu fathul Makkah tahun ke delapan Hijrah.
Al Anwath adalah bentuk jamak dari nauth (gantungan), yakni tempat gantungan dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya untuk mencari berkah dengannya. Lalu berkata sebagian sahabat yang baru masuk Islam dan belum mengetahui tauhid secara sempurna “Buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu An Waath.” Ini adalah termasuk jeleknya taqlid dan tasyabbuh(meniru-niru), dan sebesar-besarnya kejelekan. Maka ketika itu Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- takjub (heran) dan mengucapkan:
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar”! Jika ada sesuatu yang menakjubkan atau mengingkari sesuatu, beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- bertakbir atau mengucapkan: “Subhanallah“ dan mengulang-ulangnya.
[السبل] yaitu jalan-jalan yang ditempuh oleh manusia dimana sebagian mengikuti sebagian lainnya. Maka sebab yang membawa kalian atas perbuatan ini adalah mengikuti jalannya orang-orang terdahulu dan meniru kaum musyrikin.
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya kalian telah menyatakan sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa “buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Musa menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.”
Tatkala Musa -‘alaihissalam- melewati lautan bersama Bani Israil dan Allah menenggelamkan musuh mereka ke dalam lautan sementara mereka menyaksikannya, mereka melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf pada berhalanya. Lalu mereka berkata kepada Musa -‘alaihissalam-, “Buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan”, maka Musa -‘alaihissalam- menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.” Musa -‘alaihissalam- mengingkari mereka seraya berkata: إِنَّ هَـؤُلاء مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ  “Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya”, yaitu bathil.
وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “Dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan”, karena syirik.
قَالَ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـهاً وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ  “Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” Musa -‘alaihissalam- mengingkari mereka sebagaimana nabi kita Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- mengingkari mereka (para shahabat beliau –pent). Tetapi mereka (Bani Israil) dan para sahabat belum mengerjakannya. Seandainya ketika itu (benar-benar) membuat Dzatu Anwaath, sungguh mereka telah berbuat syirik, namun Allah menjaga mereka, sehingga tatkala nabi mereka melarangnya mereka berhenti, dan mengatakan bahwa perkataan ini (bersumber) dari kebodohan dan bukanlah mereka mengucapkannya karena kesengajaan. Ketika mereka tahu bahwa hal itu adalah syirik, maka mereka berhenti dan tidak melakukannya. Seandainya mereka laksanakan, niscaya mereka telah berbuat syirik kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.
Maka syahid (penguat) dari ayat ini adalah, bahwa di sana ada yang beribadah kepada pohon-pohon, karena orang-orang musyrik mengambil Dzata Anwaath. Para sahabat yang ilmu belum mantap dihati-hati mereka mencoba untuk meniru kaum musyrikin andai saja Allah tidak menjaga mereka dengan Rasul-Nya.
As Syahid: Bahwa disana ada yang mencari berkah kepada pohon-pohon dan beri’tikaf pada-nya. Dan i’tikaf artinya tinggal di sisinya beberapa waktu dalam rangka mendekatkan diri kepadanya, maka i’tikaf adalah tinggal pada suatu tempat.
Ini menunjukkan beberapa permasalahan yang besar:
  1. Masalah pertama: Bahayanya jahil (tidak mengetahui) tauhid. Barangsiapa tidak mengetahui tauhid, pantas baginya jatuh pada kesyirikan, sementara dia tidak mengetahuinya. Maka wajib mempelajari tauhid dan apa yang bertentangan dengannya dari (perbuatan-perbuatan) syirik, sampai manusia itu berada di atas bashirah (ilmu) sehingga tidak datang dari kebodohannya. Apalagi jika dia tidak melihat seseorang mengerjakan kesyirikan tersebut kemudian dia menyangkanya benar dengan sebab kebodohannya. Maka terkandung di dalamnya; bahaya kebodohan, lebih-lebih dalam masalah aqidah.
  2. Masalah kedua: Hadits ini (menunjukkan) bahayanya meniru orang-orang musyrik, karena kadang hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda:
    “Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
    Maka tidak boleh meniru-niru kaum musyrikin.
  3. Masalah ketiga: Bahwa bertabarruk (meminta berkah) kepada batu-batu dan pohon-pohon serta bangunan adalah syirik, meskipun dinamakan dengan selain namanya. Karena hal itu berarti mencari berkah kepada selain Allah dari batu-batu, pohon-pohon, dan kuburan. Ini adalah syirik meskipun dinamakan dengan nama selain syirik.
Bersambung.. Insya Alloh